Harga & tagihan 3 menit baca
Menagih Klien Tanpa Merusak Hubungan
Cara menagih klien yang telat bayar dengan sopan dan tegas, mulai dari kesepakatan awal sampai menawarkan cicilan.
Banyak pemilik usaha kecil lebih takut menagih daripada tidak dibayar. Rasanya sungkan, apalagi kalau kliennya sudah langganan lama. Tapi tagihan yang jelas dan tepat waktu malah membuat hubungan lebih awet, karena tidak ada yang menyimpan kesal diam-diam.
Masalahnya sering mulai sebelum tagihan dikirim
Tagihan yang telat dibayar sering berawal dari kesepakatan yang tidak jelas. Klien tidak tahu kapan harus bayar, berapa persisnya, atau ke rekening mana. Ada juga klien yang sebenarnya menunggu faktur yang tidak pernah Anda kirim.
Sebelum pekerjaan dimulai, sepakati hal dasarnya secara tertulis. Chat WhatsApp pun cukup asal jelas isinya: harga, kapan tagihan dikirim, berapa hari tempo pembayarannya, dan apa yang terjadi kalau telat. Klien yang sudah setuju dari awal jarang tersinggung saat diingatkan nanti.
Kirim tagihan secepatnya setelah barang atau jasa diserahkan. Faktur yang baru dikirim dua minggu kemudian memberi kesan bahwa Anda sendiri tidak terburu-buru dibayar. Pastikan faktur memuat nomor, tanggal, rincian pekerjaan, total, tanggal jatuh tempo, dan nomor rekening tujuan.
Mengingatkan dengan nada yang pas
Pengingat pertama sebaiknya dikirim beberapa hari sebelum jatuh tempo, bukan sesudahnya. Nadanya cukup ramah dan informatif. Sebutkan nomor faktur, jumlahnya, dan tanggal jatuh temponya. Banyak klien memang lupa, dan pesan seperti ini membantu mereka.
Kalau tanggal jatuh tempo sudah lewat, kirim pengingat kedua dalam satu sampai tiga hari. Tetap sopan, tapi lebih langsung. Katakan bahwa tagihan sudah lewat jatuh tempo, lalu tanyakan kapan pembayaran bisa dilakukan. Meminta tanggal yang pasti jauh lebih efektif daripada kalimat “mohon segera dibayar”, karena klien harus memberi jawaban.
Kalau dua pesan tidak dibalas, telepon. Lewat telepon, masalah yang tidak kelihatan di chat sering keluar. Bisa jadi fakturnya tertahan di bagian keuangan klien, atau ada keluhan soal pekerjaan yang belum sempat disampaikan. Kadang klien sedang seret kas dan malu mengakuinya.
Klien yang lupa dan klien yang bermasalah perlu cara berbeda
Klien yang lupa biasanya langsung bayar setelah diingatkan. Klien yang sedang kesulitan biasanya mau terbuka kalau Anda mendekatinya dengan tenang. Untuk mereka, cicilan dengan jadwal yang jelas sering lebih baik daripada menunggu pembayaran penuh yang tidak kunjung datang.
Contohnya, sebuah studio desain kecil punya tagihan Rp 12.000.000 ke satu klien yang sudah telat sebulan. Setelah ditelepon, klien mengaku sedang kekurangan uang. Mereka sepakat klien membayar Rp 4.000.000 setiap tanggal 5 selama tiga bulan. Studio itu mendapat kepastian, dan klien tidak merasa dipojokkan. Kesepakatan seperti ini sebaiknya ditulis ulang dalam pesan supaya kedua pihak punya catatan yang sama.
Yang perlu diwaspadai adalah klien yang terus berjanji tapi tidak pernah menepati. Untuk klien seperti ini, Anda berhak menahan pekerjaan atau pengiriman berikutnya sampai tagihan lama beres. Sampaikan dengan datar, sebagai aturan yang berlaku untuk semua klien. Kalau terdengar seperti hukuman pribadi, klien akan membalasnya secara pribadi juga.
Kebiasaan yang membuat penagihan lebih ringan
- Tetapkan satu hari dalam seminggu untuk memeriksa tagihan yang akan jatuh tempo dan yang sudah lewat.
- Simpan riwayat penagihan per klien, termasuk tanggal yang pernah mereka janjikan.
- Untuk proyek besar, minta uang muka. Risiko tidak dibayar jadi terbagi sejak awal.
- Kalau memungkinkan, serahkan urusan menagih ke satu orang di tim Anda, supaya hubungan kerja sehari-hari dengan klien tetap terasa nyaman.
Ucapkan juga terima kasih saat klien membayar, terutama yang biasanya tepat waktu. Kelihatannya sepele, tapi ketika kas klien sedang terbatas dan mereka harus memilih tagihan mana yang dibayar dulu, pemasok yang selalu jelas dan menghargai mereka cenderung didahulukan.