Harga & tagihan 3 menit baca
HPP untuk Usaha Dagang: Konsep yang Sering Keliru
Apa itu harga pokok penjualan di usaha dagang, kenapa HPP tidak sama dengan total belanja barang, dan kesalahan yang paling sering terjadi.
HPP, atau harga pokok penjualan, adalah modal dari barang yang sudah terjual dalam satu periode. Kata kuncinya ada di “yang sudah terjual”. Banyak pemilik usaha dagang menganggap HPP sama dengan total belanja barang bulan itu, dan dari situ laba yang mereka hitung jadi meleset.
HPP tidak sama dengan total pembelian
Barang yang Anda beli bulan ini belum tentu terjual bulan ini. Sebagian masih ada di gudang. Sebaliknya, sebagian barang yang terjual bulan ini mungkin dibeli bulan lalu.
Karena itu HPP dihitung dengan melihat stok. Stok di awal bulan ditambah pembelian selama bulan itu, lalu dikurangi stok yang masih tersisa di akhir bulan. Hasilnya adalah modal dari barang yang benar-benar sudah keluar.
Contohnya seorang penjual sepatu di marketplace. Di awal bulan, stoknya bernilai Rp 30.000.000. Selama bulan itu ia membeli barang Rp 50.000.000, ditambah ongkos kirim dari supplier Rp 2.000.000. Di akhir bulan, stok yang tersisa bernilai Rp 35.000.000.
HPP bulan itu adalah Rp 30.000.000 ditambah Rp 52.000.000, dikurangi Rp 35.000.000, yaitu Rp 47.000.000. Kalau penjualannya Rp 70.000.000, laba kotornya Rp 23.000.000.
Kalau penjual itu memakai total belanja sebagai HPP, yaitu Rp 52.000.000, laba kotornya terlihat hanya Rp 18.000.000. Selisih Rp 5.000.000 itu sama persis dengan kenaikan stok di gudang. Uangnya tidak hilang, hanya berubah jadi barang yang belum terjual.
Di bulan ketika Anda menghabiskan stok dan sedikit belanja, kesalahannya terbalik: laba terlihat lebih besar dari kenyataan. Hasilnya laba naik turun tajam dari bulan ke bulan, padahal usahanya berjalan biasa saja.
Yang masuk dan yang tidak masuk HPP
Di usaha dagang, harga pokok barang mencakup harga beli dan biaya untuk membawa barang itu sampai siap dijual. Ongkos kirim dari supplier termasuk di sini. Untuk barang impor, bea masuk juga termasuk. Kalau biaya-biaya ini dicatat sebagai biaya umum, harga modal per barang terlihat lebih murah, dan harga jual yang Anda pasang bisa terlalu rendah.
Sebaliknya, ada biaya yang sering dimasukkan ke HPP padahal bukan. Gaji kasir, sewa toko, iklan, dan ongkos kirim ke pelanggan adalah biaya operasional, bukan bagian dari harga pokok barang dagang. Kalau semuanya dicampur ke HPP, Anda tidak bisa lagi membedakan apakah masalahnya ada di harga beli barang atau di biaya menjalankan toko.
Nilai stok akhir harus benar
HPP hanya seakurat angka stok akhirnya. Kalau stok akhir dicatat lebih besar dari yang sebenarnya, HPP jadi lebih kecil dan laba terlihat lebih besar. Biasanya ini terjadi karena barang rusak, hilang, atau kedaluwarsa yang masih tercatat sebagai stok.
Karena itu stok perlu dihitung fisik secara berkala. Catatan saja tidak cukup.
Harga beli juga sering berubah. Barang yang sama bisa dibeli dengan harga berbeda di bulan berbeda. Cara menilai stok yang tersisa harus konsisten dari bulan ke bulan. Kalau caranya berganti-ganti, HPP ikut naik turun tanpa ada perubahan nyata di usaha Anda.
Kebiasaan yang membantu HPP lebih akurat
- Simpan semua nota pembelian, termasuk nota ongkos kirim dari supplier.
- Pisahkan ongkos kirim pembelian dari ongkos kirim ke pelanggan, karena keduanya masuk ke tempat yang berbeda.
- Hitung stok fisik di akhir periode, setidaknya untuk barang yang nilainya besar.
- Bandingkan laba kotor per bulan. Kalau persentasenya melompat jauh tanpa alasan yang jelas, kemungkinan ada yang keliru di catatan stok atau pembelian.
Untuk toko dengan ratusan jenis barang, menghitung HPP yang benar setiap bulan memang makan waktu. Tapi Anda tidak perlu menghitungnya sendiri untuk bisa curiga saat laba kotor tiba-tiba terlihat terlalu bagus.