Lompat ke konten utama
Kanafin Chat via WhatsApp
Semua artikel

Dasar pembukuan 3 menit baca

Cara Baca Laporan Laba Rugi dalam 5 Menit

Urutan membaca laporan laba rugi, dari baris paling atas sampai laba bersih, dan angka mana yang perlu Anda perhatikan setiap bulan.

Laporan laba rugi menjawab satu hal: dalam periode tertentu, usaha Anda menghasilkan laba atau rugi, dan berapa besarnya. Cara membacanya dari atas ke bawah. Penjualan ada di baris paling atas, lalu dikurangi biaya lapis demi lapis sampai tersisa laba di baris paling bawah.

Bentuk laporannya

Contoh di bawah ini laporan laba rugi bulan Mei untuk sebuah kedai kopi dengan dua karyawan.

KeteranganJumlah
PenjualanRp 65.000.000
Harga pokok penjualanRp 22.750.000
Laba kotorRp 42.250.000
Gaji karyawanRp 9.000.000
Sewa tempatRp 8.000.000
Listrik dan airRp 3.500.000
PromosiRp 2.000.000
Penyusutan mesin kopiRp 1.250.000
Biaya lain-lainRp 1.500.000
Laba usahaRp 17.000.000
Bunga pinjamanRp 1.000.000
Laba sebelum pajakRp 16.000.000

Laporan dari software atau dari akuntan Anda mungkin memakai nama baris yang sedikit berbeda, tapi urutannya hampir selalu seperti ini.

Lima hal yang dibaca, satu menit masing-masing

  1. Periodenya. Lihat dulu laporan ini untuk bulan apa, atau dari tanggal berapa sampai tanggal berapa. Laporan satu bulan dan laporan sejak awal tahun bisa ada dalam satu halaman, dan angkanya sangat berbeda.

  2. Penjualan. Bandingkan dengan bulan lalu dan dengan bulan yang sama tahun lalu. Penjualan yang naik terasa menyenangkan, tapi belum tentu menambah laba kalau biayanya ikut naik lebih cepat.

  3. Laba kotor. Ini penjualan dikurangi harga pokok penjualan, yaitu biaya bahan untuk barang yang terjual. Untuk kedai kopi, isinya biji kopi, susu, gula, dan gelas. Hitung persentasenya. Di contoh tadi, Rp 22.750.000 dibagi Rp 65.000.000 sama dengan 35%, jadi laba kotornya 65% dari penjualan. Persentase ini seharusnya stabil dari bulan ke bulan. Kalau turun, biasanya harga bahan naik, ada bahan yang terbuang, atau ada diskon yang terlalu besar.

  4. Biaya operasional. Ini biaya untuk menjalankan usaha, laku atau tidak laku: gaji, sewa, listrik, promosi. Cari dua atau tiga pos terbesar dan lihat apakah ada yang tiba-tiba melonjak. Di contoh tadi, gaji dan sewa saja sudah Rp 17.000.000 dari total Rp 25.250.000.

  5. Laba di baris bawah. Laba usaha menunjukkan hasil dari kegiatan utama. Setelah itu ada pos di luar kegiatan utama, misalnya bunga pinjaman. Kedai ini menghasilkan laba sebelum pajak Rp 16.000.000, atau sekitar 25% dari penjualan.

Yang tidak ada di laporan laba rugi

Ada beberapa hal yang memang tidak dimasukkan ke laporan ini, dan justru ini yang sering membuat pemilik bingung.

Uang yang Anda ambil untuk keperluan pribadi tidak tercatat sebagai biaya. Kalau Anda mengambil Rp 10.000.000 bulan ini, laba di laporan tetap Rp 16.000.000. Pengambilan itu tercatat di neraca.

Cicilan pokok pinjaman juga tidak ada di sini. Yang masuk hanya bunganya. Pembelian mesin baru tidak muncul sebagai biaya sekaligus. Yang muncul hanya penyusutannya, yaitu bagian harga mesin yang dibebankan setiap bulan selama umur pakainya.

Karena itu laba di laporan ini hampir tidak pernah sama dengan perubahan saldo rekening. Untuk melihat pergerakan uang, Anda butuh laporan arus kas.

Tanda laporan perlu ditanyakan

Tanyakan ke orang yang menyusun laporan Anda kalau laba kotor melompat jauh dari bulan ke bulan padahal harga tidak berubah. Atau pos “biaya lain-lain” yang besar, karena isinya bisa saja pengeluaran pribadi atau transaksi yang belum jelas. Bulan dengan biaya listrik atau sewa yang kosong juga mencurigakan, karena artinya ada tagihan yang belum tercatat.

Kalau rekening belum dicocokkan dengan pembukuan, laporan yang terlihat rapi pun bisa salah. Jadi jangan sungkan bertanya setiap kali ada angka yang terasa aneh.

Anda urus usahanya, kami urus pembukuannya

Mulai dari Rp 2 juta per bulan, kontrak bulanan.

Chat via WhatsApp