Dasar pembukuan 4 menit baca
10 Istilah Akuntansi yang Salah Dipakai Pemilik Usaha
Sepuluh istilah keuangan yang sering tertukar maknanya, dari omzet sampai neraca yang balance, dan akibatnya bagi keputusan usaha Anda.
Banyak salah paham soal keuangan usaha berawal dari kata. Pemilik usaha memakai satu istilah dengan arti sehari-hari, sementara laporan keuangan memakainya dengan arti yang lain. Hasilnya, laporan yang benar dibaca dengan salah. Ini sepuluh istilah yang paling sering tertukar.
Omzet, laba, dan margin
-
Omzet adalah total penjualan sebelum dikurangi apa pun. Omzet sering disebut sebagai ukuran besar usaha, dan itu wajar. Masalahnya muncul saat omzet dipakai untuk menilai apakah usaha sehat. Toko dengan omzet Rp 200.000.000 sebulan bisa rugi, dan toko dengan omzet Rp 50.000.000 bisa untung bersih lebih besar.
-
Laba adalah penjualan dikurangi semua biaya dalam satu periode. Laba tidak sama dengan uang di rekening. Uangnya bisa masih tertahan di pelanggan yang belum membayar atau di stok yang belum terjual, atau sudah keluar untuk cicilan pokok pinjaman.
-
Margin dan markup sering dianggap sama, padahal hitungannya berbeda. Markup dihitung dari harga modal, sedangkan margin dihitung dari harga jual. Barang dengan modal Rp 100.000 yang dijual Rp 150.000 punya markup 50%, tapi marginnya hanya 33,3%. Kalau Anda ingin margin 30% lalu cukup menambahkan 30% ke harga modal, harga jualnya Rp 130.000 dan margin yang Anda dapat hanya sekitar 23%.
Modal dan uang yang diambil pemilik
-
Modal dalam percakapan sehari-hari sering berarti harga beli barang (“modalnya berapa?”) atau uang belanja stok. Di laporan keuangan, modal berarti bagian pemilik dalam usaha, yaitu uang yang Anda setor ditambah laba yang Anda biarkan di usaha. Dua arti ini membuat ungkapan seperti “sudah balik modal” sulit dipastikan maksudnya.
-
Pengambilan pemilik adalah uang usaha yang Anda ambil untuk keperluan pribadi. Banyak pemilik usaha perorangan mencatatnya sebagai gaji atau biaya. Akibatnya laba terlihat lebih kecil dari kenyataan. Pengambilan ini mengurangi bagian pemilik di neraca, bukan biaya di laporan laba rugi. Untuk PT, aturannya berbeda lagi, karena uang PT bukan uang pemilik.
Biaya dan harga pokok
-
Biaya tidak sama dengan pengeluaran. Saat Anda membeli laptop kantor Rp 15.000.000, uangnya keluar hari itu. Tapi laptop dipakai beberapa tahun, jadi biayanya dibagi ke sepanjang umur pakainya. Ini yang disebut penyusutan. Kalau seluruh harga laptop dianggap biaya bulan ini, bulan ini terlihat rugi dan bulan-bulan berikutnya terlihat terlalu untung.
-
Harga pokok penjualan sering disamakan dengan total belanja stok bulan ini. Harga pokok penjualan hanya menghitung harga beli barang yang benar-benar terjual. Stok yang masih di gudang belum menjadi biaya. Penjual baju di marketplace yang belanja Rp 60.000.000 tapi hanya menjual barang senilai Rp 40.000.000 (dihitung dari harga belinya) punya harga pokok penjualan Rp 40.000.000. Sisa Rp 20.000.000 masih berupa stok.
Uang muka, arus kas, dan neraca yang balance
-
Uang muka pelanggan sering langsung dianggap pendapatan. Selama barang atau jasanya belum diserahkan, uang itu masih kewajiban Anda kepada pelanggan. Kalau pelanggan membatalkan, uangnya harus dikembalikan. Pendapatan baru diakui saat pekerjaannya diserahkan.
-
Arus kas sering dipakai untuk menyebut saldo rekening (“arus kas lagi bagus”). Arus kas adalah pergerakan uang masuk dan keluar dalam satu periode, dan dari mana asalnya. Saldo tinggi karena pinjaman bank baru cair berbeda sekali dengan saldo tinggi karena penjualan. Laporan arus kas menunjukkan bedanya.
-
Balance sering diartikan sebagai tanda bahwa pembukuan sudah benar. Neraca yang balance hanya berarti total aset sama dengan total kewajiban ditambah ekuitas. Belanja rumah yang tercatat sebagai biaya usaha tetap membuat neraca balance. Penjualan yang tercatat dua kali pun bisa tetap balance. Pembukuan baru bisa disebut benar kalau setiap angkanya cocok dengan sumbernya, misalnya saldo bank cocok dengan rekening koran dan stok cocok dengan isi gudang.
Samakan istilah dengan orang yang mengurus keuangan Anda
Kalau istilahnya tertukar, Anda dan orang yang mengurus keuangan Anda bisa membicarakan dua hal yang berbeda tanpa sadar. Misalnya Anda bertanya kenapa “modal” belum kembali, sementara laporan menunjukkan modal pemilik yang terus naik. Atau Anda merasa arus kas bagus karena saldo tebal, padahal saldo itu berasal dari uang muka yang belum dikerjakan. Sebelum mengambil keputusan besar dari sebuah laporan, tanyakan dulu arti istilah yang Anda ragukan.