Arus kas 3 menit baca
Break-even Point: Cara Hitung dan Cara Pakai
Cara menghitung titik impas usaha dengan satu rumus sederhana, lalu memakainya untuk menilai harga jual, karyawan baru, dan sewa tempat.
Break-even point, atau titik impas, adalah jumlah penjualan yang Anda butuhkan supaya tidak untung dan tidak rugi. Di bawah angka itu usaha Anda rugi. Di atasnya, baru ada laba. Menghitungnya cukup dengan kalkulator, dan hasilnya bisa dipakai untuk banyak keputusan sehari-hari.
Pisahkan biaya tetap dan biaya variabel
Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya sama walaupun penjualan naik atau turun. Sewa, gaji karyawan tetap, listrik dasar, langganan software, dan cicilan masuk di sini.
Biaya variabel ikut naik dan turun bersama penjualan. Untuk kedai kopi, ini biji kopi, susu, gula, gelas, dan tutup gelas. Untuk penjual di marketplace, biaya admin dan ongkos kemasan per pesanan juga biaya variabel.
Ambil contoh kedai kopi dengan dua karyawan. Biaya tetapnya per bulan:
| Biaya tetap | Jumlah |
|---|---|
| Sewa tempat | Rp 7.000.000 |
| Gaji dua karyawan | Rp 9.000.000 |
| Listrik, air, internet | Rp 3.000.000 |
| Gaji pemilik | Rp 5.000.000 |
| Total | Rp 24.000.000 |
Gaji pemilik sengaja dimasukkan. Kalau tidak, titik impas yang Anda dapat adalah titik di mana usaha impas tapi Anda bekerja gratis.
Hitung kontribusi per unit
Harga rata-rata satu gelas kopi di kedai ini Rp 25.000. Biaya variabelnya Rp 10.000 per gelas. Selisihnya, Rp 15.000, adalah kontribusi per gelas. Setiap gelas yang terjual menyumbang Rp 15.000 untuk menutup biaya tetap.
Titik impasnya adalah biaya tetap dibagi kontribusi per unit:
Rp 24.000.000 dibagi Rp 15.000 = 1.600 gelas per bulan.
Kalau kedai buka 26 hari sebulan, itu sekitar 62 gelas per hari. Dalam rupiah, 1.600 gelas dikali Rp 25.000 adalah Rp 40.000.000 penjualan per bulan.
Angka per hari ini yang paling berguna. Pemilik kedai bisa melihatnya setiap malam saat tutup kasir dan langsung tahu hari itu di atas atau di bawah impas.
Pakai untuk menilai keputusan
Dengan rumus ini, Anda bisa mencoba hitungan sebuah keputusan sebelum benar-benar menjalankannya.
Menaikkan harga. Kalau harga naik jadi Rp 27.000 dan biaya variabel tetap Rp 10.000, kontribusi jadi Rp 17.000. Titik impas turun ke sekitar 1.412 gelas per bulan. Yang perlu Anda perkirakan adalah berapa banyak pelanggan yang berhenti membeli karena harga naik.
Menambah karyawan. Barista ketiga dengan gaji Rp 4.500.000 menaikkan biaya tetap jadi Rp 28.500.000. Titik impasnya naik ke 1.900 gelas, atau 300 gelas lebih banyak per bulan. Itu sekitar 12 gelas tambahan per hari. Kalau barista baru membuat antrean lebih cepat dan pelanggan tidak pergi, angka itu mungkin realistis. Kalau kedai masih sepi di jam-jam biasa, mungkin belum.
Pindah ke tempat yang lebih besar. Hitung titik impas dengan sewa baru, lalu perkirakan dengan jujur apakah tempat baru itu akan mendatangkan cukup pembeli tambahan untuk menutup selisihnya.
Batas dari hitungan ini
Titik impas memakai angka rata-rata. Kalau menu Anda punya harga dan margin yang sangat berbeda, misalnya kopi susu dengan margin tinggi dan makanan berat dengan margin tipis, rata-ratanya bisa bergeser saat komposisi penjualan berubah. Hitung ulang kalau Anda melihat pelanggan mulai beralih ke menu lain.
Titik impas juga dihitung dari laba, bukan dari kas. Usaha bisa sudah di atas titik impas tapi tetap kekurangan uang, misalnya karena harus membayar cicilan pokok pinjaman, membeli stok dalam jumlah besar, atau menunggu pembayaran dari pelanggan.
Hitung ulang titik impas setiap kali ada perubahan besar pada harga, sewa, atau jumlah karyawan. Angka dari tahun lalu bisa membuat Anda merasa aman, padahal sewanya sudah naik.